Uncategorized

Gen Z dan Milenial Rela Bayar Mahal untuk Tipe Liburan Ini, Kamu Termasuk?

Generasi Z dan milenial di Asia Tenggara rupanya tak keberatan merogoh kocek lebih dalam untuk sebuah perjalanan. Namun, bukan sembarang liburan yang mereka cari. Bagi mereka, perjalanan bukan sekadar berpindah tempat atau mengunjungi destinasi populer.  Pengalaman yang berkesan, waktu berkualitas bersama orang terdekat, hingga momen yang terasa bermakna justru menjadi bagian penting dari sebuah perjalanan, meski harus membayar lebih mahal. Temuan ini tercermin dalam survei South East Asia Pulse Check yang dirilis Hilton pada Selasa (1/9/2026). Sebanyak 96 persen wisatawan Asia Tenggara menyatakan berencana tetap berlibur di kawasan tersebut dalam 12 bulan ke depan.

“Hal yang menonjol bukan hanya wisatawan di seluruh Asia Tenggara ingin terus bepergian, tetapi juga betapa sadar dan terarahnya mereka terhadap pengalaman, serta kenangan yang tercipta dari setiap perjalanan,” ujar Alexandra Murray, Area Vice President and Head of South East Asia Hilton. Menurutnya, wisatawan kini semakin mempertimbangkan nilai yang mereka dapatkan dari sebuah perjalanan.

Bukan hanya soal destinasi, tetapi juga bagaimana perjalanan tersebut memberikan waktu berkualitas bersama orang-orang terkasih, menjadi jeda setelah bekerja keras, atau bahkan menumbuhkan kepercayaan diri untuk menjelajahi tempat baru.

Secara umum, sebanyak 59 persen wisatawan Asia Tenggara berencana meningkatkan pengeluaran untuk perjalanan di kawasan tersebut. Angka tersebut melampaui jumlah responden yang ingin mengunjungi lebih banyak destinasi dalam satu perjalanan (50 persen), bepergian lebih sering (43 persen), maupun memperpanjang durasi perjalanan (41 persen). Di Indonesia, kecenderungan meningkatkan anggaran perjalanan bahkan lebih menonjol.

Sebanyak 68 persen wisatawan Indonesia berencana mengeluarkan biaya lebih besar per perjalanan, disusul 58 persen yang ingin mengunjungi lebih banyak destinasi per perjalanan, 46 persen ingin bepergian lebih sering, dan 40 persen berniat melakukan perjalanan dengan durasi lebih panjang. Sementara itu, di tingkat regional, Vietnam memimpin dalam rencana bepergian lebih sering (55 persen) dan mengunjungi lebih banyak destinasi per perjalanan (60 persen). Adapun Thailand, termasuk negara dengan minat meningkatkan pengeluaran perjalanan tertinggi, yakni 69 persen.

Ilustrasi liburan. Gen Z cenderung ingin lebih aktif bepergian, sementara milenial menonjol dalam rencana meningkatkan pengeluaran perjalanan.

Pada kelompok usia muda, pola perjalanan Generasi Z dan milenial menunjukkan kecenderungan yang berbeda. Di tingkat Asia Tenggara, sebanyak 63 persen milenial berencana meningkatkan pengeluaran untuk setiap perjalanan. Sementara itu, Gen Z lebih menonjol dalam rencana bepergian lebih sering (54 persen), mengunjungi lebih banyak destinasi per perjalanan (58 persen), dan memperpanjang durasi perjalanan (47 persen).

Sebanyak 64 persen Gen Z di Indonesia berencana meningkatkan pengeluaran sekaligus mengunjungi lebih banyak destinasi dalam satu perjalanan, bepergian lebih sering (55 persen), sedangkan berencana memperpanjang durasi perjalanan (45 persen).

Kondisi tersebut berbeda dengan wisatawan dari generasi berusia lebih tua yang cenderung mempertahankan kebiasaan liburan mereka. Responden Generasi X dan Baby Boomers menyatakan tetap menjaga frekuensi perjalanan (masing-masing 59 persen dan 66 persen), durasi liburan (masing-masing 60 persen), serta jumlah destinasi yang di kunjungi per perjalanan (50 persen dan 62 persen).

Ilustrasi pengeluaran. Wisatawan tetap mencari pengalaman perjalanan yang dinilai sepadan dengan biaya yang dikeluarkan.

Bujet yang lebih besar tidak serta-merta membuat wisatawan mengabaikan aspek nilai yang di peroleh dari perjalanan. Sebanyak 51 persen wisatawan Asia Tenggara menempatkan kesesuaian nilai dan harga (value for money) sebagai pertimbangan utama saat memilih destinasi, di susul makanan dan pengalaman kuliner sebesar 47 persen. Kecenderungan serupa terlihat pada wisatawan Indonesia.
Sebanyak 52 persen memprioritaskan value for money, di susul 50 persen mempertimbangkan makanan dan pengalaman kuliner, serta 35 persen menunjukkan minat terhadap wisata alam dan aktivitas luar ruang. Hasil temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan anggaran perjalanan tetap di sertai pertimbangan untuk memperoleh pengalaman yang di nilai sepadan dengan biaya yang di keluarkan.

Ilustrasi survei. Riset South East Asia Pulse Check oleh Hilton dilakukan terhadap 3.000 responden di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

Survei Hilton’s South East Asia Pulse Check di susun berdasarkan survei daring yang di laksanakan pada Juni 2026 terhadap 3.000 responden di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Temuan ini bertujuan untuk memberikan gambaran umum tentang sentimen perjalanan terkini, menggali motivasi, preferensi, dan niat yang membentuk pola wisata di seluruh kawasan. Sebanyak 500 responden di survei di masing-masing negara, dengan pembagian ke dalam empat generasi, yakni Gen Z (18–29 tahun), Milenial (30–45 tahun), Gen X (46–61 tahun), dan Baby Boomers (62 tahun ke atas).

Anda mungkin juga suka...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *