Thailand dinilai perlu meningkatkan fasilitas dan layanan ramah
muslim, Menerapkan sistem akreditasi yang diakui, dan memastikan
kebijakan yang jelas dan konsisten untuk menarik lebih banyak
wisatawan muslim. Hal ini dikatakan oleh spesialis pariwisata .
Dilansir dari bangkok Post, Indeks Pariwisata Muslim Global 2026 dari
CrescentRating dan Mastercard menunjukan Thailand berada di
peringkat kelima di antara destinasi di luar Organisi kerja sama islam
(OKI), Peringkat ini turun dari urutan kedua selama priode 205-2019.
Kepala eksekutif CresentRating dan HalalTrip, Fazal Bahardeen
menyebut penurunan itu menunjukan persaingan yang lebih ketat
daripada thailand kehilangan posisi. Sebab, destinasi lain mempercepat
upaya untuk menarik wisatawan muslim.
Kinerja Thailand tetap relatif stabil selama dekade terakhir, Sekornya
meningkatkan dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan penguatan
infrastruktur pariwisata pasca-pandemi di negara tersebut.
Peringkat mencerminkan persaingan yang lebih ketat dari destinasi
seperti Hongkong dan taiwan, yang telah melakukan investasi signifikat
dalam layanan ramah muslim, standar perhotelan dan pengalaman
pengunjung.
Di antara destinasi non-OKI, singapura mempertahankan posisi teratas
dengan 73 poin dari 1000, Hongkong naik ke posisi kedua dengan 64
poin, sementara Taiwan dan Inggris berbagai tempat ketiga dengan 59
poin, Thailand mencetak 58 poin, mempertahankan posisi kelima dari
tahun sebelumnya.

Kedatangan wisatawan muslim internasional mencapai 169 juta pada
tahun 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi 262 juta pada tahun
2030, menurut Crescenrating, Asia mencatat lebih dari 128 juta
kedatangan wisatawan muslim pada 2025.
Pendorong pertumbuhan utama masuk meningkatnya permintaan dari
wisatawan muslim muda dan meningkatnya pengguna kecerdasan
buatan (AI) untuk menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih
personal.
“Thailand tetap menjadi destinasi yang sangat menarik bagi wisatawan
muslim. tetapi mempertahankan posisis kepemimpinan nya akan
membutuhkan investasi berkelanjutan dan pendekatan terstruktur untuk
memperkuat ekosistem pariwisata ramah muslimnya ” kata Bahardeen
“”Seiring semakin banyak Thailand, menurut dia adalah kesenjangan antara
kesepian fisik dan visibilitas digital. Meskipun banyak hotel dan bisnis
pariwisata menawarkan fasilitas rumah muslim, fasilitas tersebut belum
cukup di promosikan atau diverifikasi.
Akibatnya, platfrom perjalanan berbasis AI tidak bisa mengindetifikasi
atau mempercayai penawaran ini sehingga tidak masuk dalam
perencanaan perjalanan otomatis .

Bahreen mendesak operator untuk mengadopsi antara standar dan akredibitas
yang diakui untuk memperkuat kepercayaan di antara wisatawan muslim
global.
Laporan itu juga mencatat perubahan kebijakan Thailand yang sering
terjadi menciptakan ketidakpastian bagi wisatawan dan operator
pariwisata.
Awal tahun ini, muncul kebingungan mengenai apakah skema bebas visa
60 hari masih berlaku, kapan aturan yang di revisi akan di perkenalkan,
dan bagaimana petugas imigrasi akan menafsirkan kunjungan berulang.
Sebagian besar negara memenuhi syarat kini diharapkan menerima
masa tinggal bebas visa 30 hari, meskipun tanggal pemberlakuannya
belum diumumkan, Selain itu, laporan tersebut menyatakan perubahan
peraturan, penegakan hukum yang tidak konsisten, dan kekhawatiran
tentang pengunjung yang tinggal lama menggaris bawahi perlunya
komunikasi yang lebih jelas stabilitas kebijakan lebih besar, dan sistem
visa digital yang transparan.
Bahardeen juga menuturkan kekuatan Thailand termasuk
mengintegrasikan persyaratan berbasis agama ke dalam sektor
perhotelan nya dan suasana kuliner halal yang semarak di bangkok dan
provinsi-provinsi selatan.
Thailand juga sudah menarik banyak pengunjung dari pasar mayoritas
muslim seperti Malaysia dan Timur Tengah, dia mengatakan negaraitu
harus tetap memperluas fasilitas ramah muslim, menstandarisasi layanan
dan meningkatkan pelatihan staf.
Negara tersebut harus menawarkan pengalaman perjalanan yang
lebih disesuaikan yang didukung oleh kemudahan digital dan layanan
amah halal. Thailand juga harus memperluas akreditasi pihak ketiga
yang kredibel untuk pariwisata ramah muslim di seluruh rantai
pasokannya, karena ini akan memperkuat kepercayaan wisatawan dan
membantu menghasilkan lebih banyak pemesanan

